Mama
Bisakah aku memelukmu?
Mama
Bisakah aku berbaring di pangkuanmu?
Pasti engkau akan menjawab
"Tentu bisa anakku"
Karena aku tahu
engkau pun merindu pada anakmu ini
Mama
Peluk aku
erat yah Ma...
Agar mama tahu kalau aku merindu
Kerinduan yang sesakkan dada
Mama
aku sudah dewasa
sungguh malu jika rebah badan
tersedu sedan di sisimu
tapi aku juga sungguh pongah
jika tidak jujur
Bahwa aku lemah jauh darimu
Mama
Peluk aku
Kamis, 14 Juli 2011
Rabu, 04 Mei 2011
ENERGI SEPASANG JIWA
Seperti air menumbuhkan
Berubah tandus menjadi rimbun
Begitulah cinta hendak kutawarkan
agar kau mengerti arti ketulusan
Ini cinta sederhana
yang ingin membebaskan dari segala penjara
ini cinta seadanya
yang ingin membangkitkan seutuhnya
Jika cinta ini berarti kebahagiaan
sepatutnya ia diperjuangkan
Sebab cinta adalah energi sepasang jiwa
Medan, 4 Mei 2011
Curcolnya setap KPPPA yg lagi DL..:)
Senin, 14 Maret 2011
SEMANGAT ALTRUISTIK PERLU DIDUKUNG PEMAHAMAN YANG TEPAT
Pagi yang berkah. Ini Sabtu yang paling semangat, pagi-pagi sudah siap berangkat ke kampus (biasanya, Sabtu adalah hari terbaik untuk istirahat setelah 5 hari bekerja dan lupakan kuliah :D). Benar kata nenek, berpacu dengan pagi agar rezeki tidak dipatok ayam. Saya tidak perlu mengeluarkan ongkos kopaja dua ribu rupiah untuk rute perempatan Matraman – Rawamangun. Seorang laki-laki muda yang sebelumnya bertanya “mbak.. ke terminal rawamangun naik apa yah”, sepertinya ingin mengucapkan terima kasih dengan “caranya” sendiri. Bagi saya sudah ada dua keuntungan, pertama karena dibayarkan ongkos kopaja, kedua saya sudah membebaskan diri saya dari sifat kikir memberi informasi.
Rezeki saya tidak itu saja di Sabtu pagi, baru saja turun dari kopaja terlihat ada perempuan yang tergeletak di pinggir selokan, persis di samping halte depan kampus UNJ. Di samping perempuan tadi ada anak 18 bulan di sebelahnya yang hampir nyebur ke dalam selokan. Hanya ada dua orang di halte, mereka memandang dari jauh dan sedikit penasaran, perempuan itu masih hidup apa tidak. Sebenarnya saya jadi mikir, dua orang sebelumnya saja enggan mendekati . Mereka takut sepertinya. Ah sudahlah, demi kemanusiaan Bismillah saja karena saya tidak tahu apa hal serupa bisa menimpa saya, teman atau keluarga saya di waktu berbeda. Anggap saja ini tabungan kebaikan.
Perempuan tadi masih hidup setelah memeriksa nadinya. Anaknya masih tetap asik bermain sambil mengganggu ibunya. Saya langsung berusaha mengidentifikasi perempuan tadi. Sepertinya, dia bukan gelandangan dan bukan pula korban kekerasan atau suatu kejahatan. Dia membawa baju serta perlengkapan untuk anaknya dan terlipat rapi di dalam tas. Saya sedikit grogi juga, sudah setahun lebih tidak pernah “bersentuhan” langsung dengan perempuan korban dalam tugas pelayanan pengaduan baik independen maupun tugas di LBH (kalaupun iya, hanya menangani konsultasi perempuan yang akan diceraikan). Duh, mana ini ada anak kecil pula, HP lowbat, sendiri dan ikut menjadi tontonan. “ dek tolong dong cari temanmu yang cowok di dalam kampus..”. Kalau dua orang di halte tadi susah dimintai tolong, kupikir mahasiswa biasanya lebih punya kepekaan dan sikap altruistik. Sisa energi telepon kumanfaatkan untuk menelpon teman kuliah dan teman kantor yang sebisa mungkin membantu, kalau ternyata kepekaan orang-orang sekitar susah untuk tergugah.
Setelah salah seorang teman datang, barulah beberpa orang lain mulai mendekati dan memberi minyak angin, teh hangat, dan menemani menjaga anaknya. Seorang sekuriti kampus telah menelpon pihak Polsek setempat. Meski sebelumnya teman sekantorku juga ikutan panik dan menelpon kepolisian (entah polisi mana) dan seperti sudah melekat kuat dalam memori, kalau tempat pengaduan perempuan korban adalah *2**** (terakhir baru sadar, domain kerja mereka hanya untuk korban kekerasan), sehingga oleh temanku pun ditelpon agar dapat membantuku di TKP. Sempat ada masalah juga dengan hal ini, untungnya mereka adalah orang-orang yang bijak sehingga sama-sama memaknai dalam bingkai kaca mata kemanusiaan, meski proses yang ditempuh kurang sesuai prosedural).
Polsek yang ditelpon oleh sekuriti tadi meluncur ke TKP (tadinya ingin membawa perempuan tadi ke rumah sakit, tapi tak seorang pun dari kerumunan yang mendukungku). Perempuan itu bersama anaknya di bawa menuju kantor polisi, tak tega membiarkannya sendiri saya ikut menemani. Perempuan tadi lemas tak bertenaga, akhirnya dibawalah ia ke RS terdekat. Setiba di RS, polisi tadi pamit pulang mau berpatroli. Tinggallah saya seorang diri di RS dan harus menangani anak usia 18 bulan yang terus menangis memanggil ibunya. Sambil menyuapi roti dan biskuit. Awalnya saya masih cukup bisa mengendalikan situasi, tapi semakin anak itu menangis dan oleh perwawat tidak membolehkan anak kecil mendekati ruang pasien, semakin paniklah saya dibuatnya. Apalagi menjadi tontonan banyak orang. Saya jadi berpikir, sekian lama saya bergelut dengan isu perempuan dan anak, ikut terjun dalam penerimaan pengaduan di LBH maupun secara independen, sekarang bekerja di kantor pemerintahan yang mengurusi anak dan perempuan, lalu bersekolah di bidang pendidikan anak, tapi tetap saja saya kikuk menghadapi persoalan perempuan dan anak (yang mungkin saja ini kasus biasa dibanding kasus-kasus lain yang mungkin pernah ikut membantu menanganinya). Untunglah, ada seorang pekerja sosial yang baik datang menemani (lagi-lagi saya harus minta maaf padanya, barangkali ini bukan domain kerjanya). Sambil menunggu siuman, saya sempat pamit ikut kuliah dulu. Setelah selesai dari kampus, saya mampir lagi dan mengurus proses administrasi RS.
Perempuan tadi bercerita alasannya ke Jakarta. Saya percaya padanya, meski untuk mempercayai kasus serupa seringkali membuat saya marah juga. Banyak penipuan dengan modus tidak punya ongkos. Dokter sendiri mengingatkan saya untuk hati-hati penipuan, tapi bagi saya akan bisa terdeteksi mana penipuan dan mana yang murni butuh pertolongan. Perempuan tadi tersesat dan kehabisan uang. Saya menyarankan ia untuk kembali ke Brebes. Karena 3 hari di jakarta tanpa tidur dan kelaparan akan memperburuk kondisinya. Akhirnya oleh Polisi, dia ditemani ke statisun Senen.
Menolong dalam konteks Jakarta, terkadang bukan hanya sekadar persoalan kemanusiaan. Tapi juga soal risiko. Banyak yang memiliki jiwa kemanusiaan, tapi tidak banyak yang ingin mengambil risiko, salah satunya risiko waktu. Tidak hanya itu, akses pun juga menjadi persoalan. Terkadang, Jika ada yang menemui perempuan korban di jalan atau sekitar rumah mereka (baik korban kekerasan, penelantaran, kriminal dan sejenisnya), mereka sangat ingin membantu, tapi mereka sendiri bingung dan tidak tahu harus memberi bantuan seperti apa. Ini terkait lemahnya informasi dan akses mereka untuk menjangkau tempat-tempat pemberi pelayanan pengaduan, ataupun tidak memahami alur “advokasi” yang bisa mereka tempuh. Belum apa-apa mereka sudah takut duluan kalau nanti harus berhubungan dengan polisi, kalau diantar ke RS nanti siapa yang jadi jaminan, siapa yang harus membayar. Sehingga sikap altruistik untuk menolong manusia terkalahkan dengan ketakutan akan risiko yang ditimbulkan dan semakin menciut karena tidak ketahuan masyarakat untuk menempuh akses yang tepat. Sosialisasi, sepertinya menjadi kata kunci.
(Mel, 14/3/2011)
Kamis, 24 Februari 2011
POLA ASUH DEMOKRATIS; mendidik anak menjadi cerdas
“ kaaakk.. jangan ke sana..panas! ”
“Dek..turun! nanti jatuh..”
“ duduk!”
“ awas, jangan main kotor lagi”
Perintah dan larangan, ini yang seringkali menjadi senjata seorang ibu dalam pola asuh yang diterapkan. Harus begini, jangan begitu , dan tidak ada kompromi. Titik!. Bukan tanpa dasar, pola asuh seperti di atas sebagai bentuk besarnya perhatian dan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Kuatir jika terjadi bahaya menimpa si kecil, sehingga tindakan preventif sangat perlu dilakukan. Hanya saja ibu lebih banyak melakukannya dengan dua hal tadi: perintah dan larangan.
Pada proses tumbuh kembang anak, factor pola asuh yang diterapkan ibu akan sangat berpengaruh. 50 persen seluruh potensi manusi terbentuk ketika anak masih dalam kandungan, selanjutnya 30 persen terbentuk saat anak berusia 4-8 tahun. Dapat disimpulkan, kontribusi ibu dalam hal pola asuh akan sangat bersar dan signifikan perannya. Tentu saja!. Itulah barangkali selalu disebut jikalau ibu adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya.
Usia antara 2-6 tahun, anak meminta haknya untuk dipercaya menajdi mandiri. Mereka akan senang kalau diberi kesempatan menetukan pilihannya sendiri. Inilah saat dimana anak senang bereksperimen, suka mencoba-coba , suka bertanya, dan besar rasa ingin tahunya. Mereka butuh kemerdekaan!.
Beberapa referensi menyebutkan, bahwa keluarga yang terbiasa dengan kultur demokratis cenderung memiliki anak-anak yang tumbuh menjadi manusia cerdas dan berhasil dalam menata kehidupannya. Kenapa?, di usia penting pertumbuhannya, keluarga (terutama ibu) memberikan pola asuh yang tidak sekadar perintah dan larangan saja. Anak diberi ruang untuk tumbuh merdeka dan mandiri. Anak memiliki kemerdekaan untuk beruji coba, menyelidiki sesuatu, menjelajah suatu tempat sehingga anak tidak pernah diam tapi selalu aktif. Peran ibu mengarahkan.
Dalam prinsip daur belajar, proses melakukan adalah tahapan awal untuk masuk pada tahapan selanjutnya. Melakukan sebagai tahapan bagi anak untuk menyelami dan mengalami sendiri, sebagai suatu pengalaman. Di tahapan ini, anak sebaiknya diajak menguji coba sesuatu (penelitian sederhana), menyentuh suatu objek, bermain peran atau sekadar jalan-jalan menjelajah suatu tempat. DI sini anak akan merasakan langsung apa yang mereka alami dalam proses sebelumnya. Biarkan mereka mengungkapkan apa yang telah dialamai dan dirasakan dalam proses tadi. Biarkan mereka mengeksplorasi dengan bahasa sederhana dengan kemampuan kosa kata yang mereka kuasai. Sepertinya, anak anda menjadi cerewet. Biarkan saja, ini proses menuju pengetahuan, Hingga akhirnya biar anak sendiri lah yang menyimpulkan pengalaman belajarnya dari tahapan-tahapan belajar yang telah dilalui. Menyenangkan!.
Biakan mereka banyak menyentuh (selama objek yang disentuhnya tidak membahayakan), karena keterampilan tangan adalah jendela menuju pengetahuan. Asah perkembangan motorik anak dengan mengajak mereka melakukan serangkaian aktivitas sederhana. Memindahkan kelereng dengan sendok dari mangkuk misalnya, atau ajak belajar menuangkan air di gelas minumnya sendiri. Untuk motorik kasar, bisa dilatih dengan mengajak anak out bond sederhana di pekarangan rumah. Jika ada pohon jambu yang rantingnya tidak terlalu tinggi, tantang anak anda untuk memanjatnya, ini akan baik utk anak belajar latihan koordinasigerak tubuh. Tentu saja, Mereka akan merasa dihargai dengan tantangan tadi!.
Ibu yang bijak, belajarlah untuk mengapresiasi potensi anak. Biarkan mereka tumbuh merdeka di ruang bebas. Sekadar perintah dan larangan adalah bentuk kasih sayang yang kurang tepat. Untuk menerapkan ini, tentu saja diawali komitmen untuk menerapkan pola asuh yang demokratis di rumah. Ingat, bahwa rumah adalah tempat anak tumbuh dan berkembang potensinya lebih dominan, bukan di sekolah. (Amelia)
Senin, 21 Februari 2011
LABORATORIUM JIWA
Chat box di akun situs pertemananku berkedip berwana biru .
“ Di mana Mel?”
“Mau Curhat…”
Tidak biasanya pikirku, maka saya-pun hanya tertawa dan sedikit meledek.
“mau curhat apa kamu?”
“ saya putus cinta”
“sakit”
Saya makin tertawa, setahuku dia temanku yang berkarakter keras, bahkan dia dalam “sebuah forum” didulat sebagai komandan…ya, dia komandan!. Kali ini dia tersudut oleh cinta, cinta membuatnya sakit, bahkan sebatang rokok pun tidak bisa mengobati sakitnya..duhhh!
……..
Cinta, memang selalu rumit. Kalau tidak begitu bukan cinta namanya. Konon ada dua topik yang selalu menarik untuk dibahas, makin dibahas makin bikin penasaran : JIN dan CINTA.
Siapa yang tidak pernah putus cinta?, jika ada yang tidak pernah mengalaminya, barangkali saja ia tidak pernah jatuh cinta. Hampir tidak ada cinta yang mengalir tanpa ada liku, karena itulah dinamikanya. Cinta tidak selalu berujung bahagia, tapi ada pahit, asam, asin rame rasanya… Lalu, apa lantas menghindari cinta? Rasanya juga tidak adil. Sebab hidup tanpa cinta, sungguh gersang tak berwarna. Kalau begitu, kenapa ada sakit dalam cinta?. Sebenarnya cinta tak akan pernah menyakiti, karena focus cinta bukan pada yang dicintai, tapi yang mencintai karena esensi cinta adalah memberi. Seseorang yang mampu member i dengan tulus adalah orang yang mampu mencintai. Ketika pemberian-pemberiannya ternyata tidak berbalas, ia tidak kecewa. Bahkan ia akan terus saja memberi kepada orang lain, sampai pada akhirnya kebaikannya disambut oleh orang yang siap dan lebih pantas menerimanya. Sebenarnya, ini persoalan kesanggupan seseorang untuk mampu berdamai atau tidak dengan kehidupannya. Ketika putus cinta, dunia rasanya hampa, tak berinspirasi. Tapi jika jauh ditelusuri, ternyata selalu saja ada hikmah. Bukankah manusia memang diberi akal dan hati untuk menuai hikmah dari setiap episode kehidupannya bukan?. Bahkan, pun berkali-kali sakit karena cinta adalah pertanda bahwa yang mencintai adalah manusia yang berkarakter kuat. Ia selalu diperhadapkan dengan pergolakan jiwanya sendiri, ujian yang lebih hebat dari sebuah pertempuran di medan perang bahkan (yang ini mah lebay :p). Sampai pada satu waktu, cinta jualah yang mempertemukan pada kesejatian dan ketulusan makna cinta. Bukan sekadar gejolak perasaan yang bahkan bisa menguasai mengalahkan nalar bahkan nurani. Tapi kata temanku, cinta itu implementatif. Bahwa cinta itu akan membuat sang pencinta tumbuh menjadi lebih baik.
“apa arti cinta kalau ada pahit..lal la la la”
begitu lirik lagu yang sedang kudengar saat ini.
Tapi bagi saya pribadi, justru itulah ujian cinta. Pahit dan kegagalan dalam cinta adalah LABORATORIUM JIWA. Ini adalah hadiah kehidupan bagi jiwa, untuk belajar mencintai lebih kuat, lebih tulus kepada orang yang benar-benar layak menerimanya di suatu waktu dan biarlah menjadi rahasia Sang Maha Pengasih, Allah SWT. Kapan? Sampai anda benar-benar telah mampu mencintai … bertanya lagi, kapan? Maka mintalah pada ALLAH, mintalah di saat siang dan malam, mintalah dengan khusyuk, niscaya Dia akan mengabulkannya. Bukan begitu? (Mels )
Jumat, 18 Februari 2011
SEPEDA : alat transportasi murah dan sehat
ZIWY: my Zity Whity Sweety
Sepeda putih yang seringkali menemani menelusuri Petamburan - Abdul Muis (menuju kantor) terutama di hari Jumat. Tidak jarang juga, membersamai olah raga di hari Ahad mengelilingi GBK.
Sepeda, alat transportasi yang murah dan sehat.
murah: karena tidak perlu merogoh kocek Rp. 30.000,- untuk ojek PP Rusun - Kantor.
sehat: sekaligus membakar kalori dan menggerakkan otot-otot tubu.
Tapi sayang sekali, Jakarta belum cukup ramah untuk pengguna sepeda. Udara yang kotor menjadi ancaman pesepeda, belum lagi perilaku pengendara kendaraan bermotor lain yang masih ugal-ugalan. Pedestrian bahkan sering digunakan pengendara motor sebagai jalan alternatif saat macet. Hmm...ini yang menyebalkan.
Fasilitas parkir juga belum cukup memadai. Di Plasa Semanggi misalnya, parkir sepeda hanya cukup menampung tidak lebih dari 10 sepeda di tempat parkir. Padahal beberapa karyawan maupun pengunjungnya (terutama bagi pengunjug pusat kebugaran yang ada di dalamnya), membutuhkan fasilitas parkir sepeda.
Bagi saya, dan juga bagi pesepeda lainnya (perempuan pesepeda yang ber-bike to work) juga semakin bertambah jumlahnya. Membutuhkan rasa aman dan nyaman selama bersepeda. Infrastruktur seperti jalur khusus sepeda tentu perlu menjadi perhatian.
Bersepada murah dan sehat, tapi seringkali juga para pesepada melalaikan keselamatan dan kesehatan diri sendiri (termasuk saya), yang tidak terbiasa memakai helm dan masker. Ini akan beresiko pada pernapasan dan jantung, sementara helm menjadi bentuk pencegahan besarnya risiko jika terjadi kecelakaan (waah semoga tidak deh)... sementara ini dulu, SELAMAT BERSEPEDA....
Kamis, 17 Februari 2011
LANGKAH AWAL PENGABDIAN KITA : beri kontribusi terbaik
Januari 2010
Kita akhirnya bertemu, diberi pengarahan oleh ibu Dra. Y. Puspito, MA sebagai ungkapan selamat datang dan bergabung di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau kita singkat KP3A. Masih ingat yah, saat nenteng ijazah legalisir untuk pemberkasan dan sedikit menggunakan ludah (jorok ahh..) supaya bisa menempelkan materei yang dikasi Teh Dwi ke kita-kita Gratiss..tiss (makasih yah Teh). Setelah prosesi ini, beberapa diantara kita nge-kost barengan. Mulai gank Bonjae, Tanabang, termasuk di kosan saya sekarang bersama Sri, Petamburan "Apartement" (gaya dikit, padahal aslinya rusun)
September atau Oktober 2010...(agak lupa..bantu ingatkan yah...)
Kita ikut Prajab bersama teman-teman kita dari Kemenegpora, Batan, Lapan, Bapenas, dan lain-lain. tentunya juga bertemu Pak Onyx..hehehe..
Di sini kita bertemu teman baru, bertukar informasi, bertukar pengalaman, sekaligus sepertinya ada yg bertemu pacar baru (haha..ngarang kalo yang ini)
Hari-hari pun kita jalani dengan status CPNS 2009. Masing-masing kita menempati posisi sesuai penempatan. Saya sendiri sudah tiga kali ganti posisi: mulai di bagian KDRT, TKI dan sekarang di keasdepan Anak Berhadapan Hukum.Begitu juga teman-teman yang lain. Sri di Gender dan Hukum, Icha dan Vista di KPAI, Ine di rumah tangga, Pitra (selalu bareng nih), Deeta dan Yuda di Hukum, Ranti di Humas..begitu juga Armi, teteh Dwi, mbak ratna, mbak Dewi, Ifran, Ika, mbak Tesa, mbak Anggun, cahya dibaca Cahyo, DJ, siapa lagi yah? oh iya, kita kehilangan mbak Iva..yahh sayang sekali..padahal potensinya luar biasa!
Di tempat masing-masing, kita mulai belajar...belajar tentang banyak hal...dari yang sederhana sampai yang rumit. Dari soal cara menyapa, senyum sampai belajar melihat senior kita membuat prosiding. agak rumit di awal memang, karena butuh banyak penyesuaian.Tidak sedikit dari kita mulai curhat-curhatan, tentang suasana baru...iya..kita belajar mengawali hari kita di KP3A. Sampai akhirnya semua muali disibukkan dengan aktivitas kegiatan: mulai dari sosialisasi, pertemuan-pertemuan, buat SPJ sampai dinas luar ke daerah.
Kita akhirnya bertemu, diberi pengarahan oleh ibu Dra. Y. Puspito, MA sebagai ungkapan selamat datang dan bergabung di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau kita singkat KP3A. Masih ingat yah, saat nenteng ijazah legalisir untuk pemberkasan dan sedikit menggunakan ludah (jorok ahh..) supaya bisa menempelkan materei yang dikasi Teh Dwi ke kita-kita Gratiss..tiss (makasih yah Teh). Setelah prosesi ini, beberapa diantara kita nge-kost barengan. Mulai gank Bonjae, Tanabang, termasuk di kosan saya sekarang bersama Sri, Petamburan "Apartement" (gaya dikit, padahal aslinya rusun)
September atau Oktober 2010...(agak lupa..bantu ingatkan yah...)
Kita ikut Prajab bersama teman-teman kita dari Kemenegpora, Batan, Lapan, Bapenas, dan lain-lain. tentunya juga bertemu Pak Onyx..hehehe..
Di sini kita bertemu teman baru, bertukar informasi, bertukar pengalaman, sekaligus sepertinya ada yg bertemu pacar baru (haha..ngarang kalo yang ini)
Hari-hari pun kita jalani dengan status CPNS 2009. Masing-masing kita menempati posisi sesuai penempatan. Saya sendiri sudah tiga kali ganti posisi: mulai di bagian KDRT, TKI dan sekarang di keasdepan Anak Berhadapan Hukum.Begitu juga teman-teman yang lain. Sri di Gender dan Hukum, Icha dan Vista di KPAI, Ine di rumah tangga, Pitra (selalu bareng nih), Deeta dan Yuda di Hukum, Ranti di Humas..begitu juga Armi, teteh Dwi, mbak ratna, mbak Dewi, Ifran, Ika, mbak Tesa, mbak Anggun, cahya dibaca Cahyo, DJ, siapa lagi yah? oh iya, kita kehilangan mbak Iva..yahh sayang sekali..padahal potensinya luar biasa!
Di tempat masing-masing, kita mulai belajar...belajar tentang banyak hal...dari yang sederhana sampai yang rumit. Dari soal cara menyapa, senyum sampai belajar melihat senior kita membuat prosiding. agak rumit di awal memang, karena butuh banyak penyesuaian.Tidak sedikit dari kita mulai curhat-curhatan, tentang suasana baru...iya..kita belajar mengawali hari kita di KP3A. Sampai akhirnya semua muali disibukkan dengan aktivitas kegiatan: mulai dari sosialisasi, pertemuan-pertemuan, buat SPJ sampai dinas luar ke daerah.
Langganan:
Postingan (Atom)






